Saturday, March 27, 2010

PR publicity

KEBIASAAN MENGHEMAT ENERGI MENCERMINKAN KEPEDULIAN KITA

Hemat energi-hemat uang anda, itu yang kerapkali kita dengar dalam setiap kampanye hemat energi. Tetapi pada kenyataannya hal ini bergantung kepada kebiasaan kita sehari-hari dan siapa yang akan membayarnya. Maka lihatlah, yang namanya penghematan hanya menonjol kalau ada kampanye dan imbauan. Setelah itu semuanya kembali kepada kebiasaan. Rata-rata masyarakat berpikir kalau merasa tak ikut bayar, buat apa mematikan lampu dan AC yang tak terpakai? Menurut Studi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM-FEUI) pada tahun 2007 di koran Tempo menyatakan bahwa untuk energi, kelompok nonmiskin mengkonsumsi 1,27 kali lebih banyak dibandingkan dengan kelompok miskin. Disini dapat kita lihat, kelompok miskin yang untuk membiayai kebutuhan hidup mereka sehari-hari sudah sangat terbatas maka dalam pemakaian energi, mereka akan berusaha berhemat karena merasakan tidak ingin menanggung biaya yang berat hanya dalam pemakaian energi saja. Sedangkan kelompok nonmiskin yang merasa tidak terbeban dengan biaya pemakaian energi akan acuh tak acuh dalam menanggapi hal ini. Sebagai contoh, dibeberapa perkantoran diJakarta yang lebih banyak menggunakan energi dalam kegiatan pekerjaannya sehari-hari, beberapa karyawan akan merasa tak peduli dengan penghematan energi yang dilakukan karena mereka tak ikut menanggung biaya energi perusahaan.

Kehidupan modern memungkinkan manusia hidup dalam suasana yang nyaman dan serba praktis dan semua ini karena adanya energi. Kita sebagai manusia yang aktif sudah terlalu menggantungkan kehidupan kita kepada energi. Hal ini kembali pada kebiasaan yang sudah mendarah daging dalam kehidupan kita. Seperti contoh, beberapa masyarakat hanya dapat tidur dengan menggunakan AC, maka jika tidak ada AC atau energi listrik tidak dapat tidur. Mari kita instrospeksi diri, sudah saatnya kita renungkan kembali hal ini. Saya melihat banyak pemborosan dan hidup yang tidak hemat sudah menjadi kanker ganas pada diri kita ini, namun saya percaya kita mampu untuk menhadapinya bahkan kalau perlu kita dapat memberikan teladan untuk hidup sederhana dan hidup berhemat kepada lingkungan sekitar kita. Memang terkadang orang merasa hal ini sepele, karena mereka merasa mampu membayar rupiah berapapun tagihan listrik. Sehingga perilaku ini sepertinya hak mereka tanpa mempertimbangkan bahwa dengan menghemat listrik maka juga bisa menghemat minyak yang juga masih harus kita sisakan cukup buat anak cucu kita dimasa mendatang. Bisa kita bayangkan kalau setiap rumah tangga dan para pelaku industri juga bisa melakukan penghematan listrik. Meskipun kecil di masing-masing rumah tangga atau industri, bila dijumlahkan di seluruh muka bumi berapa juta daya listrik yang bisa dihemat. Dan ujung-ujungnya adalah berjuta-juta galon minyak bisa dihemat untuk anak cucu kita, tidak perlu dibakar sekarang.

Krisis energi adalah kekurangan (atau peningkatan harga) dalam persediaan sumber daya energi ke ekonomi. Krisis ini biasanya menunjuk ke kekurangan minyak bumi, listrik, atau sumber daya alam lainnya. Semua makhluk hidup di dunia ini membutuhkan energi untuk melakukan aktifitas mereka terutama pada malam hari, terutama manusia. Segala aktifitas manusia menggunakan energi, khususnya bagi kita yang tinggal di kota-kota besar. Penggunaan energi tidak hanya pada malam hari, tetapi pada siang hari juga (24 jam). Dinegara-negara lain juga memerlukan energi untuk menunjang kebutuhan hidup mereka. Semua orang di dunia menggunakan energi yang berasal dari satu sumber yang sama yang tidak dapat diperbaharui. Maka apabila kita generasi sekarang menggunakan energi secara sia-sia, maka akan habis dan generasi berikutnya tidak dapat menggunakannya lagi. Apa jadinya bila di dunia ini tidak ada energi? Banyak hal yang dilakukan pemerintah untuk membuat masyarakat sadar akan pentingnya menghemat pemakaian energi, tetapi masih banyak juga masyarakat yang belum mengetahui hal tersebut. Mendengar tidak sama dengan melihat dan melihat tidak sama dengan melakukan. Ajaran seindah apapun tidak akan ada gunanya jika tidak dilakukan. Sayangilah energi kita, mulailah dengan menggunakannya dengan hemat dengan menjalankan hal-hal yang dapat menghemat energi. Lakukan penghematan energi seperti kurangi pemakaian listrik pada waktu beban puncak pada jam 18.00 - 22.00, mematikan televisi, radio, tape recorder, serta perlatan audio visual lainnya, bila tidak ditonton atau didengarkan, lepaskan kabel peralatan listrik bila peralatan sedang tidak digunakan, bila peralatan listrik yang menggunakan sistem remote sedang tidak digunakan, jangan mematikan dengan remote control (stand by) tetapi matikan dari tombol on-off atau lepaskan tusuk kontak dan hal –hal kecil lainnya yang dapat membantu penghematan energi.

Masyarakat masih banyak yang belum menyadari pentingnya menghemat energi dewasa ini, mereka masih saja bersikap acuh tak acuh terhadap permasalahan-permasalahan energi yang ada. Kebiasaan yang selalu ditanamkan kedalam setiap pribadi kita yang akan menentukan sikap dan prilaku kita terhadap lingkungan sekitar kita. Semoga masyarakat kita tak bosan-bosan untuk selalu mengingatkan kepada diri sendiri untuk peduli terhadap kasus energi yang semakin hari semakin memprihatinkan. (CS)


No comments:

Post a Comment